
PURWAKARTA | Kin.co.id – Mencermati perkembangan perolehan prestasi para tim delegasi Purwakarta yg sedang berjibaku menaikan harkat derajat Kota Purwakarta di Kejuaraan PORPROV JABAR KE XIV TAHUN 2022, dimana pada hari ini dari Cabor Sepak Bola tim Purwakarta akhirnya dikalahkan oleh tim Bekasi dalam Laga Grand Final yg berlangsung melalui Drama Penalti ditanggapi Aa Komara, salah satu aktivis Purwakarta yang kerap menjadi motor penggerak kegiatan masyarakat yg bersifat Kolaboratif dan bernuansa Kebersamaan.
” mereka para atlit Purwakarta yang berjuang untuk PORPROV JABAR, sudah mendedikasikan waktu, tenaga, pikiran, dan jiwa nya demi mengangkat Marwah kota nya.
Hari ini tim sepak bola kita mati mati an bertaruh harga diri dalam laga Grand Final melalui adu penalti yang dramatis, belum lagi atlit dari cabor cabor lainnya telah berusaha sekuat tenaga bahkan ada yang cedera fisik nya ( di sini lah yang dimaksud bahwa para atlit bertaruh nyawa manakala fisiknya terciderai , bisa beresiko cacat seumur hidup atau bahkan meninggal )
Disela-sela kepadatan kesibukannya katakan Aa Komara aktivisi muda Purwakarta mengatakann.’Saya ingin menyampaikan dalam kaca mata tugas bersama kita sebagai SOLIDARITY MAKER serta NATION & CHARACTER BUILDING, bahwa Kemenangan bukan lah Akhir segalanya, namun proses perjuangan dan dedikasi dari seluruh Atlit, Pelatih & Tim Manajemen harus tetap di apresiasi.
“Kita harus tetap sama antusias nya ketika tim kita kalah atau menang, apalagi kekalahan itu di moment puncak seperti Grand Final yang artinya tim kita sudah melakukan pembuktian kerja keras nya sampai level tersebut yang tentunya melewati setiap level adalah bukan sesuatu yang mudah.
Untuk itu jangan sampai muncul kebiasaan mengacuhkan para pembela Purwakarta di lini apa pun termasuk para atlit porprov pada saat mereka mengalami kegagalan.ujarnya AA.
disamping itu juga menurut konteks berbangsa, ada perilaku para Elit Kita yang hanya mau mengapresiasi warga yang berkompetisi ketika di posisi sebagai juara, bahkan terkadang menjadi ajang untuk *social climbing* atau panjat sosial/ pansos demi menaikkan “rating” pribadi nya atau memenuhi *Vested Interest* atau kepentingan tersembunyi saja dengan mendompleng moment kemenangan meski tidak memiliki andil apa pun dalam proses nya.
Tapi manakala kalah, mereka lantas melupakan para pejuang pengharum nama bangsa atau daerah nya tersebut
Ini tentunya sebuah perilaku Opportunis yang hanya menimbulkan Apatisme di kalangan generasi muda yang berpotensi mengukir prestasi.
Sikap Miskin Apresiasi dari para Elit yang hanya ingin turut memetik Manis nya saja, tanpa menghormati proses perjuangan yang panjang, harus di akhiri.
Sekali lagi kalah menang adalah putra putri terbaik kita yang memiliki keberanian mental dari sekian banyak penduduk Purwakarta, mereka layak di apresiasi dan dikenang sepanjang masa, jangan sampai generasi muda kita ragu atau segan untuk mengukir prestasi di bidang apa pun, karena mereka khawatir dicibir dan tidak diakui pengorbanannya manakala menemui kegagalan” pungkas Aa Komara.
Red
