Transformasi Transmigrasi: Pelatihan Air Hujan Jadi Bekal Calon Transmigran Menuju Hidup Mandiri

Yogyakarta – Upaya meningkatkan kemandirian para calon transmigran terus diperkuat melalui berbagai program pelatihan berbasis kebutuhan lapangan. Salah satunya adalah pelatihan pengelolaan air hujan yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pengembangan Pelatihan Masyarakat dan Transmigrasi (BBPPMT) Yogyakarta bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Transmigrasi (PPSDMT).

Sebanyak 70 calon transmigran dari Provinsi Sulawesi Selatan mengikuti pelatihan ini sebagai bekal sebelum menempati kawasan transmigrasi yang sebagian besar berada di wilayah minim sumber air bersih. Materi disusun berbasis pengalaman dan kebutuhan masyarakat transmigran, mulai dari teknik penampungan, filtrasi, sanitasi, hingga penerapan teknologi sederhana seperti instalasi pemanen air hujan.

Kepala BBPPMT Yogyakarta menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari transformasi transmigrasi menuju konsep 5T—Terlatih, Terampil, Tangguh, Terkoneksi, dan Terberdayakan. Menurutnya, kemandirian air adalah salah satu faktor kunci keberhasilan transmigrasi karena berkaitan langsung dengan kesehatan, produktivitas, dan keberlanjutan hidup warga di permukiman baru.

“Air hujan merupakan sumber daya yang tersedia secara alami dan perlu dikelola dengan baik. Dengan keterampilan ini, para calon transmigran diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air secara mandiri dan tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah,” ujarnya dalam sesi pembukaan.

Selama pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan pembelajaran teori, tetapi juga praktik langsung merakit alat pemanen air hujan serta melakukan uji kualitas air. Kegiatan ini juga mendorong inovasi masyarakat dalam pemanfaatan air untuk menunjang ketahanan pangan dan sanitasi keluarga.

Para peserta menyambut positif pelatihan tersebut. Mereka berharap keterampilan yang diperoleh dapat menjadi modal penting dalam membangun kehidupan baru di wilayah transmigrasi dan memperkuat ketahanan lingkungan masyarakat.

Melalui program ini, pemerintah menegaskan komitmen untuk menghadirkan transmigrasi yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan keluarga transmigran di seluruh Indonesia.

Program Prioritas 5T (Transformasi) Transmigrasi adalah lima program unggulan Kementerian Transmigrasi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan mengembangkan kawasan transmigrasi secara terpadu dan berkelanjutan, yaitu: Trans Tuntas, Trans Lokal, Trans Patriot, Trans Karya Nusa, dan Trans Gotong Royong.

Program ini berfokus pada penyelesaian masalah legalitas lahan (Trans Tuntas), dukungan untuk warga (Trans Lokal), pengembangan sumber daya manusia dan ekonomi (Trans Patriot), serta peningkatan infrastruktur dan kebersamaan dalam pembangunan (Trans Gotong Royong).

Air Hujan adalah sebagai peran penting bagi peserta Transmigrasi dilokasi mereka nantinya. Sri Wahyuningsih, S.Ag (Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening) menyampaikan konsep 5 M nya ;

1. Menampung, air hujan melalui SOP (Standar Operasional Prosedur) 10-15 menit biar lah air hujan membersihkan aneka polutan di atap dan Udara, setelah merasa sudah Yakin bersih baru di tampung, endapkan (diamkan) beberapa menit terus di Filter/saring dengan kain putih, agar tau seberapa besar kotoran nya, tempatkan di wadah yang tertutup Rapat, serta simpan/hindarkan dari sinar matahari atau pantulan nya agar tidak memicu munculnya lumut.

2. Mengolah, melalui Metode Elektrolisa Air Hujan di pecah partikel nya menjadi 2 yaitu Air Basa dan Air Asam.  Dengan bahasa Umum Air Hujan di setrum untuk meningkatkan kualitas Air Hujan yang sudah baik  menjadi lebih baik lagi.

3. Minum, air Hujan sebagai pengganti Air yang selama ini di Minum yang baik untuk tubuh dengan catatan takaran Minum nya yaitu berat badan di Kali 3-5cc/ml.

4. Menabung, setelah kita hitung kebutuhan minum selama musim Hujan lagi, baru secara sadar kita buatkan sumur resapan jika mempunyai area yang luas, dan biopori jika tidak punya lahan, dan jika mempunyai sumur gali bisa air hujan dari talang di masukkan langsung ke sumur untuk tabungan dan memoerbaiki kualitas airnya. Jika area kita dalam kemiringan di sarankan tidak menggali sumur, melainkan dengan penanaman tanaman Konservasi.

5. Mandiri, kebutuhan air kita akan tercukupi dengan Memuliakan Air Hujan yang Gratis dari Pencipta. Kita bisa mandiri Air, Kesehatan, Ekonomi, Sosial, dan Budaya.

Para peserta di ajak melihat Penampungan Air Hujan hingga ke alat Elektrolisa yang meningkatkan kualitas air hujan lenih optimal. Peserta sangat antusias karena baru kali pertama ini ternyata Air Hujan bisa sebagai pengganti air yang selama ini kita minum dan menyehatkan. Selama ini cara pandang kita salah bahwa air hujan membawa  bencana hingga di fitnah, tapi sebenarnya jika kita renungkan hingga mendalam. Ketika kita melakukan aktifitas yang selama ini kita konsumsi yaitu pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan jika tidak ada air apa semuanya terselesaikan?…”Tidak”. Karena sumber mata air tidak mengalir karena hutan habis di tebang, tidak ada akar yang meminum, menampung air hujan lagi. Dan Sungai sudah mengering karena semua kesalahan kita sebagai manusia yang di ciptakan terakhir kali setelah semua nya tercipta dari Flora dan Fauna. Manusia adalah Tamu di Bumi ini yang hidup hanya sementara setiap saat akan di panggil menghadap Penciptanya untuk di mintai pertanggung jawaban selama di dunia, ucap, Bu Ning (Sri Wahyuningsih).

Editor&publisher: mahmudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *